Sky Watch
Minggu, 28 Juni 2009
Pulau Soqotra, pulau dunia lain
Terus apa sih yang membuat saya kagum dengan pulau ini?! Kalau dilihat pantainya sih sekilas gak ada yang aneh. Pasir putih, batuan koral, air laut yang jernih, kayanya pantai-pantai di Indonesia juga gak kalah menarik dengan pantai di pulau Soqotra. Tapi.. liat dulu deh pohon-pohon dan tanaman-tanaman yang ada di pulau ini.. Huaaaaaa..
Aneh banget! Berasa kaya liat tanaman dari planet lain! Nggak heran sih.. Karena banyak pohon dan tumbuhan di pulau ini termasuk dalam kategori flora endemis, yang artinya tidak akan pernah ditemukan di tempat lain di dunia selain di pulau Soqotra. Bahkan ada beberapa varietas yang diprediksikan telah mencapai usia 20 juta tahun louh! Hueeew..
Kita liat lebih dekat beberapa contoh tanaman-tanaman yang ada di sana..
Nah, ini yang pertama. Pohon dengan bentuk yang sangat aneh dan pastinya gak akan pernah kita temuin di halaman tetangga sebelah, Namanya pohon Darah Naga atau dracaena cinnabari. Bentuknya aneh kan?! Mirip pesawat ruang angkasa atau mirip jamur kalau diliat dari atas. Pohon ini, oleh penduduk setempat, biasa dijadikan sumber obat ’segala macam’ jenis penyakit. Konon pohon ini juga dijadikan bahan untuk ritual sihir pada jaman abad pertengahan. Dan dapat dipastikan ini akan menjadi pohon favorit saya buat background foto kalau suatu saat nanti saya bisa ke Soqotra xD
Pernah denger tentang tanaman adenium? Itu loh tanaman yang suka ada di pot-pot yang bentuknya kaya talas bogor tapi berbunga.. Nah, kalo Adenium biasa sih, kayanya kita udah sering liat. Tapi liat deh Adenium yang ada di pulau Sokotra. Nama latinnya adenium obesium atau disebut juga Mawar Padang Pasir. Adenium jenis ini kayanya gak bakal muat deh kalo ditaro di pot. Gede banget Tapi hebatnya tanaman ini kayanya gak perlu tanah deh. cukup taro aja di batu-batuan dan jadilah dia sebesar ini.
ini adalah contoh adenium yang mengalami obesitas
Kalo yang ini katanya, masih satu famili sama pohon ketimun. namanya dendrosicyos socotranum. Saya sendiri sih nggak pernah liat yang namanya pohon ketimun, tapi feeling saya mengatakan bahwa pohon ketimun di Indonesia akan terlihat jauh berbeda dari yang ini
pohon sejenis timun yang kesepian….
Sewaktu saya memperlihatkan gambar-gambar ini kepada salah seorang teman saya dan mengungkapkan keinginan untuk pergi ke Sokotra, dia malah menganggap saya aneh. Karena buat dia tanaman-tanaman itu memberi efek rasa yang tidak menyenangkan. Semacam ‘geli’ katanya. xD
Mungkin persepsi orang memang berbeda-beda. Tapi saya sendiri tetap menganggapnya mengagumkan Walaupun saya mungkin akan berpikir ulang mengenai keinginan saya untuk pergi ke Pulau Soqotra karena beberapa fakta ini :
Pulau Soqotra adalah pulau yang memiliki iklim tropis padang pasir. Panasnya dapat mencapai 40 derajat celcius. - 22 tahun tinggal di negara tropis, kalo liburan ke tempat yang panas juga kayanya gak seruuu deh >,<
Karena Pulau Soqotra adalah pulau yang dilindungi kelestariannya di sana hampir tidak dibangun jalanan. Satu-satunya jalanan yang ada di sana, baru dibangun sekitar 2 tahun lalu. itu pun dengan perjanjian yang alot antara Pemerintah Yaman dan UNESCO. - heuuu, dapat dibayangkan kalo pengen keliling-keliling di pulau ini, mungkin kita harus membawa onta pribadi.
Agar tidak banyak turis yang datang ke Pulau Soqotra dan agar kealamian dari pulau Soqotra itu tetap terjaga maka jangan harap menemukan hotel atau tempat peristirahatan di sana, -silakan bawa tenda sendiri kalau mau berkunjung -,-”
Akhirnya, mungkin pulau Soqotra memang bukan tujuan wisata yang tepat dan nyaman. Lagipula jauh lebih baik jika pulau ini tidak terlalu banyak dijamah oleh manusia, yang ada nanti malah habitat aslinya rusak. kita cukup mengagumi keanehan pulau ini melalui gambar-gambarnya ^^.
Jumat, 13 Maret 2009
MAAF pada seorang PEMIMPIN pemberi amanah
yg sya mengerti AMANAH SEOARANG PEMIMIMPIN TAK TERSAMPAIKAN karna ada sebuah paku lisan yang menahan dan menancap dari seserang yg sok berwenang dan hal itu yg menbuat sakit karna menancap dalam hati. tp terkadang seseorang yg telah menancapkan paku lisan pada orang lain mereka tidak pernah merasa telah menancapkanx dan seseorang yg telah sakit karna hal itu takkan pernah mereka lupa pada kejadian itu.
hari ini sya tak mengerti padahal maksud hati tak ingin mencampuri tp sya mendapat suatu amanah yg harus disampaikan
tapi... seseorang dengan sok berwenang menghentikan sebuah amanah yg harusx disampaikan pada halayak ramai.
maaf sya bagi sang pemimpin karna amanahmu tak dapat sya sampai kan karna seseorang yg sok dengan wewenangx telah menghentikan sya dan sya tak punya daya tuk melawan karna sya bukan siapa2
Minggu, 01 Maret 2009
sahabat..???
kata sahabat adalah sebuah kata yang menandakan bahwa manusia adalah makhluk sosial namun demikian besar arti sebenarnya dari sebuah persahabatan sehingga membuatnya begitu berarti. kadang sahabat dapat membuat hari-hari yang kita lalui benar-benar indah dan memiliki banyak cerita, namun kadang juga sahabat membuat kenangan terburuk untuk kita sepanjang hidup.
tetapi kadang kala juga sahabat bisa berakhir indah atau bisa juga buruk, saya mungkin punya sebuah persepsi bahwa persahabatan tidak boleh diakhiri dengan sebuah kata cinta, dan persepsi itu dah menjadi prinsip semenjak saya mengenal arti persahabatan.
namun, saya juga tidak bisa pungkiri bahwa hal yang bertentangan tersebut banyak terjadi disekitarku. dan harapku saya tidak menjadi bagian dari itu, sebab saya ingin menempatkan arti sahabat sebenar-benarnya sahabat, walaupun banyak cerita negatif yang mendekatkan seorang sahabat akan hal cinta dan apa arti sahabat
untuk saya sahabat adalah sahabat, dan sahabat terbaik adalah sahabat yang tau kapan dia atau kita membutuhkannya.
::butuh waktu yang lama untuk membangun sebuah persahabatan, tetapi hanya butuh waktu singkat untuk menghancurkannya::
kisah cinta dan sahabat
tiba2 cinta jatuh kedalam telaga, kenapa?????
karna cinta itu buta
lalu sahabat pun ikut terkun,kenapa??????
karna sahabat akan berbuat apa saja demi cinta....
didalam telaga cinta hilang kenapa???
karna cinta itu lembut, mudah hilang jika tak dijag dan sulit dicari
sedangkan sahabat masih mencari2 dan menunggu cinta kenapa ?????
karna sahabat itu sejati dan akan kekal sebagai sahabt yang setia
Kamis, 19 Februari 2009
PESAN tuk SAHABAT
Apakah kamu percaya persahabatan itu ada?
Bagaimana persahabatan itu ada?
Sebuah kebutuhan ataukah takdir kamu bisa menjadi sahabatku?
Kenapa pergi?
Kenapa membuat suatu perubahan terhadap persahabatan qta?
Tidak cukupkah dengan jarak qta yang semakin jauh?
Kenapa harus mengecewakan q sedalam ini tentang arti sebuah sahabat?
Bukankah kamu yang membuatku percaya?
Atau mungkin kamu sudah lupa dengan semua kalimat indah yang pernah terucap?
Ya.. kamu pernah mengatakan qta sahabat walau apapun keadaan qta…Sahabatku maafkan aku atas semua kekuranganku Maaf aku pernah marah pada mu..Mungkin sudah seharusnya aku menerima takdirku..Bahwa aku ternyata bukan sahabatmu Dan mungkin tidak cukup baik untuk singgah dihidupmu..
SAHABAT PASIR
ehm…sahabat sadarkah bahwa kami tak lagi bisa memandangmu karena kamu berada di balik tembok itu sahabat…beberapa hari yang lalu aku dengar bisikan angin“waktu akan membangun tembok buat kami”
sahabat saat kau sadar akan hal itu........, tapi terlambat…saat ini ketika sebuah benteng telah berdiri kokohaku berusaha menghancurkannya dengan sebuah kerikil tapi usaha itu hanya sia-sia dan tidak berhasil
dan walaupun kau mencoba menggali walau mustahil dan jikalau berhasil kau akan mati tertimpa dibawahnya lalu selamat tinggal buat sahabat karena mungkin engkau hanya menganggap kita seperti pasir bertaburan dan mudah hilang
UNTUK SAHABATKU
Minggu, 04 Januari 2009
jurnal asli
Business Phone: 561-746-3740 Program Section: Vegetables
Glades Crop Care, Inc.
949 Turner Quay
Jupiter, FL 33458
Abstract:
_________________
Results and Discussion
Both test sites were infested with melon thrips, western flower thrips and the Florida flower thrips, Frankliniella bispinosa (Morgan). The results of the two tests are presented in Tables 1-4. In the first test, where thrips numbers were low and MPB were numerous, the efficacy of B. bassiana against thrips is not readily apparent (Table 1). Infected thrips were detected in both the treated and the untreated plots (Table 2). A significant result was the infection of MPB by B.bassiana. Infection increased steadily throughout the four sampling dates, with levels reaching approximately 20%. This high infection level, occurring in both the treated and untreated plots, suggests that either infected insects migrated into the untreated check, or naturally infected insects occurred in the untreated check. This observation led to increased plot separation and size for the second test. In the second test, thrips numbers dropped markedly following the first application of Mycotrol WP9503 (Table 3). In subsequent samplings, the differences between the treated and untreated plots were not significant. Incompatibility between the fungus and the grower’s use of the fungicide maneb may explain the lack of differences. Maneb is known to be harmful to B. bassiana (Mycotech, personal communication).
Table 1
Table 2
Table 3
Table 4
High numbers of thrips were infected with B. bassiana, even in the pretreatment samples taken 24 April 1996 (Table 4). This clearly indicated that some level of natural infection of thrips occurs in Florida pepper fields. Infection rates increased in both plots after the first application. In subsequent sampling dates infected thrips were only found in the treated area. The numbers of MPB in the second test were low. The apparent increase in their numbers in the treated area and the differences between the treated and untreated populations are probably not significant
(Table 3). As in the thrips population, infection of MPB was detected in both the treated and untreated plots, indicating naturally occurring pathogenic B. bassiana. The formulation of B. bassiana in this test has also been successfully tested against whiteflies, thrips, and other insects in several crops. These tests showed that B. bassiana reduced the thrips populations, although fungicide incompatibility may have reduced its overall efficacy. Incompatibility with a commonly used fungicide is a major limiting factor for expanded use of this fungus for control of thrips or other insects in Florida vegetable crops (S. Jaronski, Mycotech, personal communication). Our tests indicate that B. bassiana naturally infects both thrips and MPB. These infections occurred in fields treated with the incompatible fungicide, maneb. Screening strains of this fungus collected from fungicide-treated commercial fields may yield a commercial product with greater compatibility with other pesticides. Recently published data (Castineiras et al., 1996) indicate that B. bassiana occurs in Florida soils, and that these strains will infect thrips under laboratory conditions. Our tests show that infection can occur under ambient field conditions. Screening field-collected isolates of B. bassiana may yield a more commercially viable product than the isolate currently used in Mycotrol.
Literature Cited
Castineiras, A., J.E. Peña, R. Duncan and L. Osborne. 1996. Potential of Beauveria bassiana and
Paeciliomyces fumosoroseus (Deuteromycotina: Hyphomycetes) as biological control agents of Thrips
palmi (Thysanoptera: Thripidae). Florida Entomol. 79: 458-461.
Denmark, H.A. 1986. The western Flower thrips, Frankliniella occidentalis (Pergande). Florida
Entomological Soc. Newsletter. December, 1986.
Faust, R.M., ed. 1992, Thrips palmi Working Group/ARS Workshop and Action Plan, Homestead,
Florida, November 20-21, 1991. U.S. Department of Agriculture, Agricultural Research Service, 20 pp.
Frantz, G. and H.C. Mellinger. 1990 Flower thrips (Thysanoptera: Thripidae) collected from
vegetables, ornamentals and associated weeds in south Florida. Proc. Fla. State. Hort. Soc. 103: 134-137.
Frantz, G. and H.C. Mellinger. 1997. Aspects of biologically based pest management in
commercial pepper production. Proc Fla. State Hort. Soc. 110: 295-297.
Quaintance, A.L. 1898. The Strawberry Thrips and the Onion Thrips. Florida Agr. Expt. Sta. Bul.
46, 75-114.
Table 1. Insects collected from pepper blooms treated with Beauveria bassiana. Boynton Beach, FL Winter 1996. Insects per bloom Treatment Mycotrol WP 1 lb per acre Untreated Check Date (1996) F. bispinosa Adults T. palmi Adults F. occidentalis Adults Total thrips O. insidiosus F. bispinosa Adults T. palmi Adults F.occidentalis Adults Total thrips O. insidiosus
29 Feb. 0.01 0.00 0.00 0.02 0.28 0.00 0.02 0.00 0.03 0.35
7 Mar. 0.43 0.00 0.00 0.48 0.17 0.29 0.00 0.00 0.36 0.40
15 Mar. 0.24 0.00 0.00 0.41 0.14 0.15 0.00 0.00 0.17 0.32
Table 2. Infection rates of thrips and Orius insidiosus by Beauveria bassiana after application of Mycotrol WP to peppers Boynton Beach, FL, Winter
1996.
Infection rate (%)
Treatment
Mycotrol WP 1 lb per acre Untreated Check
Date
(1996)
Thrips all ages O. insidiosus Thrips all ages O. insidiosus
22 Feb. 0.00 0.00 0.00 0.00
29 Feb. 0.00 5.00 0.00 0.00
7 Mar. 1.47 10.90 0.00 19.13
12 Mar. 0.00 20.28 0.00 6.92
Table 3. Insects collected from pepper blooms treated with Beauveria bassiana. Jupiter Florida, Spring 1996.
Insects per bloom
Treatment
Mycotrol WP9503 1 lb per acre Untreated Check
Date
(1996)
F. bispinosa
Adults
T. palmi
Adults
F.
occidentalis
Adults
Total
thrips
O.
insidiosus
F. bispinosa
Adults
T. palmi
Adults
F.
occidentalis
Adults
Total
thrips
O.
insidiosus
24 Apr. 4.95 0.08 0.00 10.01 0.03 5.97 0.36 0.20 12.82 0.02
1 May 0.23 0.15 0.20 1.16 0.08 3.10 0.00 0.76 11.07 0.41
8 May 0.22 0.42 0.11 0.98 0.11 0.41 0.25 0.08 1.08 0.02
15 May 0.75 0.30 0.04 1.86 0.27 0.38 0.45 0.09 1.95 0.15
Table 4. Infection rates of thrips and Orius insidiosus by Beauveria bassiana after application of Mycotrol WP9503 to peppers. Jupiter FL, Spring
1996.
Infection rate (%)
Treatment
Mycotrol WP9503 1 lb per acre Untreated Check
Date
(1996)
Thrips larvae Thrips adults Thrips all ages O. insidiosus Thrips larvae Thrips adults Thrips all ages O. insidiosus
24 Apr. 1.19 0.78 0.94 0.00 11.04 6.38 8.08 0.00
1 May 5.21 27.34 17.28 5.56 8.71 23.23 15.78 18.06
8 May 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00 0.00
15 May 0.00 1.92 1.56 0.00 0.00 0.00 0.00 8.33
TERJEMAHAN JURNAL
JAMUR BERMANFAAT BAGI PERTANIAN
“menerjemahkan dan menganalisa jurnal”

Disusun untuk memenuhi tugas dosen mata kuliah
Jamur bermanfaat bagi pertanian semester III
Disusun oleh:
Erfan Dani Septia
0710460016
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2008-2009
Terjemahan:
Abstrak
Kontrol biologis terhadap hama sayuran merupakan tujuan penting bagi penanam dan praktisi IPM. Saat ini, secara alamiah karena kumbang Orius insidious mengatakan (MPB) adalah agen pengontrol biologis utama untuk mengatur thrips pada lada (Capsicum annum L.). Alternatif lain terhadap agen pengontrol biologis dibutuhkan untuk mengatasi thrips selama bulan-bulan penghujan saat MPB mulai diapause dan selama periode pemekaran jeruk saat penerbangan thrips besar-besaran bisa membanjiri kemampuan MPB menyediakan kontrol thrips satisfaktor. Sebuah formulasi komersial jamur patogen serangga Beauveria bassiana (Balsamo) Bull telah dievaluasi untuk kontrol biologis thrips. Thrips yang terinfeksi ada pada plot yang menerima formulasi jamur secara komersial, juga terjadi secara alami pada daerah tanpa treatment. MPB juga ditemukan. Kegunaan potensial jamur ini dibahas.
Pendahuluan
Thrips telah menyerang hasil panen dan kualitas bagi petani sayur florida sejak sebelum masuk abad- 20. Hama ini semakin sulit diatasi akhir-akhir ini. Kesulitan ini bertambah sehubungan dengan pengenalan spesies hama perusak secara ekonomis termasuk thrips bunga barat, Frankliniella occidentalis (Pergande) pada pertengahan 1980 dan thrips melon, Thrips palmy Karny tahun 1990. Spesies ini menyebabkan kerugian ekonomi besar akibat transmisi virus Tomato Spotted Wilt Virus dan dari makanan mereka dan luka tempat meletakkan telur serangga pada buah. Manajemen thrips idak mudah karena tingkat resistensi hama yang tinggi akibat pembukaan bertahun-tahun terhadap banyak bahan aktif yang berbeda. Maksud strategi manajemen meliputi kontrol biologi sebagai komponen utama. Pada banyak situasii hama, penyimpanan secara alami mengundang predator, seperti MPB, tindakan penindasan yang memadai atau kontrol populasi thrips. Meskipun periode perpindahan thrips yang tinggi ke tanaman, atau menekan populasi predator dari serangga yang diaplikasikan untuk pengontrol hama lain, seperti kontrol biologis yang tidak memadai. Dalam kasus ini, digunakan insektisida biorasional seperti patogen serangga yang bisa berguna. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi efisasi (kemanjuran) dari agen kontrol biologi, Beauveria bassiana untuk mengontrol thrips pada lada dan akibatnya terhadap MPB.
Bahan dan Metode
Dua uji telah dilakukan pada tahun 1996, menggunakan jamur patogen serangga, Beauveria bassiana (Mycotrol, Mycotech corporation, 630 Utah Avenue, Butte, MT) sebagai agen biologi melawan thrips. Tempat uji pertama telah dimulai diladang lada di Boyton Beach, FL. Ladang tersebut dipilih karena disamping tempat tinggal populasi thrips, populasi MPB yang besar juga terdapat di lahan ini, dan pengaruh Beauveria bassiana pada serangga dapat diketahui.
Jamur yang diberi Mycotech Corporation diformulasi sebagai pengontrol insekstisida biologis WP. Produk ini diaplikasikan pada 1 lb/acre dalam 50 galon semprot/acre dengan daya semprot petani komersial, ditandai dengan jatuhnya pipa-pipa yang disemprot langsung pada bagian samping dan puncak canopi tanaman. Silwet L77 agen inang silikon ditambahkan pada 0,04 % dari volume total yang disemprot pada aplikasi pertama dan agen inang kinetik menggantikan silwet L77 pada aplikasi terakhir. Aplikasi tiga mingguan dibuat dimulai 22 februari 1996 untuk 2 acre plot dengan 3 acre lada sebagai batasan sebagai kontrol tanpa treatment. Waktu percobaan dilahan kira-kira selama 17 minggu.
Akibat dari Mycotrol WP pada thrips dan MPB dievaluasi sebagai sampel dikumpulkan sebelum dan sesudah aplikasi dari pemekaran. Pada setiap 4 random dipilih bagian dengan treatment, diambil 50 pemekaran. Dari sini, 25 diletakkan pada kantong plastik untuk dievaluasi keefektifan thrips. Sebanyak 25 pemekaran kedua ditempatkan pada kantong plastik yang lain untuk determinasi spesies dan perhitungan populasi untuk evaluasi akibat dari jamur pada jumlah serangga. Sampel dikumpulkan segera sebelum tiap aplikasi dan 7 hari setelah aplikasi akhir. Sampel dari evaluasi kemanjuran direndam dengan isopropil alkohol 70 % segera setelah dikoleksi. Sampel dari evaluasi infektifitas ditempatkan pada pendingin dengan es buatan dan dibentuk sepanjang malam untuk laboratorium Mycotech di Butte, MT untuk kultur. Serangga pada evaluasi kemanjuran diidentifikasi dan dihitung menggunakan mikroskop dengan pembesaran 40 kali. Spesimen diseleksi bentuk untuk dikonfirmasi identifikasi dibawah mikroskop.Pengujian kedua telah dimulai selama 18 minggu di bell lada di Jupiter, FL tanggal 29 april 1996. aplikasi, pengumpulan sampel dan analisis pada pengujian kedua menggunakan prosedur yang sama dengan pengujian pertama. Formulasi jamur ditingkatkan, diganti Mycotrol WP9503 yang digunakan untuk penambahan hamburan jamur dalam tangki semprot. Silwet L77 ditambahkan pada 0,04 % untuk aplikasi. Plot yang dipakai adalah 10 acre plot treatment dan 10 acre plot tanpa treatment. hasilnya untuk uji jamur dalam plot terbesar dibuat untuk mendeteksi infeksi MPB pada area tanpa treatment pada uji pertama. Kira-kira dari 550 kaki dipisahkan 2 plot dalam uji kedua.
Hasil dan Pembahasan
Kedua uji tersebut ditempatkan pada thrips melon, thrips bunga barat dan thrips bunga florida, Frankliniella bispinosa (Morgan). Hasilnya ditunjukkan pada tabel 1-4. Pada uji pertama, dimana jumlah thrips menurun dan MPB banyak, kekuatan Beauveria bassiana melawan thrips tidak nyata (tabel 1). Thrips yang diinfeksi diketahui pada kedua plot baik yang diberi perlakuan dan yang tanpa perlakuan (tabel 2). Hasil yang signifikan telah diinfeksi MPB dengan Beauveria bassiana. Peningkatan infeksi seluruhnya tetap dari 4 sampel data, mencapai level kira-kira 20 %. Tingkat infeksi yang tinggi ini terjadi pada plot yang ditreatment maupun yang tidak, disarankan bahwa serangga yang terinfeksii dipindahkan pada pemeriksaan tanpa treatment, atau serangga yang terinfeksi secara alami terjadi pada pemeriksaan tanpa treatment. Observasi ini menjadikan plot terpisah dan sebagai ukuran uji kedua.
Pada uji kedua, jumlah thrips yang berjatuhan menarik perhatian dari aplikasi pertama Mycotrol WP9503 (tabel 3). Dalam sampel berikut, perbedaan antara plot yang ditreatment dan yang tanpa treatment tidak signifikan. Ketidaksesuaian antara jamur dan fungisida maneb yang digunakan petani bisa menerangkan kekurangan dari perbedaan itu. Maneb diketahui bisa melukai Beauveria bassiana. Jumlah thrips yang tinggi setelah diinfeksi dengan Beauveria bassiana, sama dalam sampel pretreatment tanggal 24 april 1996 (tabel 4). Indikasi ini jelas bahwa level infeksi alami thrips terjadi pada hasil lada di florida. Laju infeksi ditingkatkan pada kedua plot setelah aplikasi pertama. Dari data sampel berikutnya infeksi thrips hanya ditemukan pada area yang ditreatment.
Jumlah MPB pada uji kedua menjadi rendah. Peningkatan jumlah nyata terlihat pada area yang ditreatment dan perbedaan populasi antara yang ditreatment dan yang tanpa treatment mungkin tidak signifikan (tabel 3). Seperti dalam populasi thrips, infeksi MPB diketahui pada plot yang ditreatment maupun yang tidak ditreatment, indikasi alami terjadi patogen Beauveria bassiana.
Formulasi dari Beauveria basssiana pada uji juga telah berhasil melawan lalat putih, thrips, dan serangga lain pada beberapa tanaman. Uji ini menunjukkan bahwa Beauveria bassiana menekan populasi thrips, meskipun ketidaksesuaian fungisida dapat menurunkan efisasi (kemanjuran) secara keseluruhan. Ketidaksesuaiaan penggunaan fungisida biasanya merupakan faktor pembatas utama untuk diperluas menggunakan jamur ini untuk kontrol thrips atau serangga lainnya pada tanaman sayuran florida.Percobaan kami menunjukkan bahwa Beauveria bassiana umumnya menginfeksi thrips dan MPB. Infeksi ini terjadi pada lahan yang ditreatment dengan ketidaksesuaian fungisida, maneb. Penyaringan Strain dari jamur dikumpulkan dari lahan komersial yang ditreatment fungisida, bisa menghasilkan suatu produk komersial dengan kecocokan terbesar dengan pestisida yang lain.dari data yang ditunjukkan terakhir mengindikasikan bahwa tanah florida mengandung Beauveria bassiana, dan strain ini akan menginfeksii thrips dalam kondisi dibawah laboratorium. Penelitian kami menunjukkan bahwa infeksi dapat terjadi dibawah kondisi lahan yang tidak sehat. Beauveria bassiana hasil Penyaringan isolasi lahan yang dikumpulkan bisa menghasilkan produk komersial yang lebih aktif daripada menggunakan isolasi sekarang ini yang menggunakan Mycotrol
.
review
Saat ini, secara alamiah karena kumbang Orius insidious mengatakan (MPB) adalah agen pengontrol biologis utama untuk mengatur thrips pada lada (Capsicum annum L.). Alternatif lain terhadap agen pengontrol biologis dibutuhkan untuk mengatasi thrips Sebuah formulasi komersial jamur patogen serangga Beauveria bassiana (Balsamo) Bull telah dievaluasi untuk kontrol biologis thrips. Thrips yang terinfeksi ada pada plot yang menerima formulasi jamur secara komersial, juga terjadi secara alami pada daerah tanpa treatment. Sebelum awal abad ke-20 populasi thrips tidak terkontrol dan mengakibatkan hasil panen dan kualitas petani sayur florida menurun. Oleh karena itu, para peneliti melakukan pengujian pada ladang lada di Boyton Beach, FL dengan menggunakan jamur Beauveria bassiana sebagai pathogen serangga pengontrol thrips. Ladang tersebut dipilih karena disamping tempat tinggal populasi thrips, populasi MPB yang besar juga dideteksi disini.Pengujian dilakukan dua kali dengan prosedur yang ada dengan penambahan Silwet L77 pada aplikasi pertama dan Mycotech WP9503 pada aplikasi kedua. Plot yang dipakai adalah 10 acre plot treatment dan 10 acre plot tanpa treatment. Dari percobaan yang telah dilakukan tersebut dapat diketahui bahwa Beauveria bassiana terbukti dapat melawan lalat putih, thrips dan serangga lainnya pada beberapa tanaman serta melawan MPB. Beauveria bassiana menekan populasi thrips, meskipun ketidaksesuaian fungisida dapat menurunkan kemanjurannya secara keseluruhan. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai ini menjadi faktor pembatas utama untuk pengembangan jamur ini. Dengan kemajuan teknologi Jamur ini dapat diproduksi secara komersial dengan menggunakan teknik kultur cair.
