TUGAS MATA KULIAH
JAMUR BERMANFAAT BAGI PERTANIAN
“menerjemahkan dan menganalisa jurnal”
JAMUR BERMANFAAT BAGI PERTANIAN
“menerjemahkan dan menganalisa jurnal”

Disusun untuk memenuhi tugas dosen mata kuliah
Jamur bermanfaat bagi pertanian semester III
Disusun oleh:
Erfan Dani Septia
0710460016
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2008-2009
JUDUL JURNAL: Penggunaan potensi Beauveria Bassiana untuk control biologi pada tanaman lada
Terjemahan:
Abstrak
Kontrol biologis terhadap hama sayuran merupakan tujuan penting bagi penanam dan praktisi IPM. Saat ini, secara alamiah karena kumbang Orius insidious mengatakan (MPB) adalah agen pengontrol biologis utama untuk mengatur thrips pada lada (Capsicum annum L.). Alternatif lain terhadap agen pengontrol biologis dibutuhkan untuk mengatasi thrips selama bulan-bulan penghujan saat MPB mulai diapause dan selama periode pemekaran jeruk saat penerbangan thrips besar-besaran bisa membanjiri kemampuan MPB menyediakan kontrol thrips satisfaktor. Sebuah formulasi komersial jamur patogen serangga Beauveria bassiana (Balsamo) Bull telah dievaluasi untuk kontrol biologis thrips. Thrips yang terinfeksi ada pada plot yang menerima formulasi jamur secara komersial, juga terjadi secara alami pada daerah tanpa treatment. MPB juga ditemukan. Kegunaan potensial jamur ini dibahas.
Pendahuluan
Thrips telah menyerang hasil panen dan kualitas bagi petani sayur florida sejak sebelum masuk abad- 20. Hama ini semakin sulit diatasi akhir-akhir ini. Kesulitan ini bertambah sehubungan dengan pengenalan spesies hama perusak secara ekonomis termasuk thrips bunga barat, Frankliniella occidentalis (Pergande) pada pertengahan 1980 dan thrips melon, Thrips palmy Karny tahun 1990. Spesies ini menyebabkan kerugian ekonomi besar akibat transmisi virus Tomato Spotted Wilt Virus dan dari makanan mereka dan luka tempat meletakkan telur serangga pada buah. Manajemen thrips idak mudah karena tingkat resistensi hama yang tinggi akibat pembukaan bertahun-tahun terhadap banyak bahan aktif yang berbeda. Maksud strategi manajemen meliputi kontrol biologi sebagai komponen utama. Pada banyak situasii hama, penyimpanan secara alami mengundang predator, seperti MPB, tindakan penindasan yang memadai atau kontrol populasi thrips. Meskipun periode perpindahan thrips yang tinggi ke tanaman, atau menekan populasi predator dari serangga yang diaplikasikan untuk pengontrol hama lain, seperti kontrol biologis yang tidak memadai. Dalam kasus ini, digunakan insektisida biorasional seperti patogen serangga yang bisa berguna. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi efisasi (kemanjuran) dari agen kontrol biologi, Beauveria bassiana untuk mengontrol thrips pada lada dan akibatnya terhadap MPB.
Bahan dan Metode
Dua uji telah dilakukan pada tahun 1996, menggunakan jamur patogen serangga, Beauveria bassiana (Mycotrol, Mycotech corporation, 630 Utah Avenue, Butte, MT) sebagai agen biologi melawan thrips. Tempat uji pertama telah dimulai diladang lada di Boyton Beach, FL. Ladang tersebut dipilih karena disamping tempat tinggal populasi thrips, populasi MPB yang besar juga terdapat di lahan ini, dan pengaruh Beauveria bassiana pada serangga dapat diketahui.
Jamur yang diberi Mycotech Corporation diformulasi sebagai pengontrol insekstisida biologis WP. Produk ini diaplikasikan pada 1 lb/acre dalam 50 galon semprot/acre dengan daya semprot petani komersial, ditandai dengan jatuhnya pipa-pipa yang disemprot langsung pada bagian samping dan puncak canopi tanaman. Silwet L77 agen inang silikon ditambahkan pada 0,04 % dari volume total yang disemprot pada aplikasi pertama dan agen inang kinetik menggantikan silwet L77 pada aplikasi terakhir. Aplikasi tiga mingguan dibuat dimulai 22 februari 1996 untuk 2 acre plot dengan 3 acre lada sebagai batasan sebagai kontrol tanpa treatment. Waktu percobaan dilahan kira-kira selama 17 minggu.
Akibat dari Mycotrol WP pada thrips dan MPB dievaluasi sebagai sampel dikumpulkan sebelum dan sesudah aplikasi dari pemekaran. Pada setiap 4 random dipilih bagian dengan treatment, diambil 50 pemekaran. Dari sini, 25 diletakkan pada kantong plastik untuk dievaluasi keefektifan thrips. Sebanyak 25 pemekaran kedua ditempatkan pada kantong plastik yang lain untuk determinasi spesies dan perhitungan populasi untuk evaluasi akibat dari jamur pada jumlah serangga. Sampel dikumpulkan segera sebelum tiap aplikasi dan 7 hari setelah aplikasi akhir. Sampel dari evaluasi kemanjuran direndam dengan isopropil alkohol 70 % segera setelah dikoleksi. Sampel dari evaluasi infektifitas ditempatkan pada pendingin dengan es buatan dan dibentuk sepanjang malam untuk laboratorium Mycotech di Butte, MT untuk kultur. Serangga pada evaluasi kemanjuran diidentifikasi dan dihitung menggunakan mikroskop dengan pembesaran 40 kali. Spesimen diseleksi bentuk untuk dikonfirmasi identifikasi dibawah mikroskop.Pengujian kedua telah dimulai selama 18 minggu di bell lada di Jupiter, FL tanggal 29 april 1996. aplikasi, pengumpulan sampel dan analisis pada pengujian kedua menggunakan prosedur yang sama dengan pengujian pertama. Formulasi jamur ditingkatkan, diganti Mycotrol WP9503 yang digunakan untuk penambahan hamburan jamur dalam tangki semprot. Silwet L77 ditambahkan pada 0,04 % untuk aplikasi. Plot yang dipakai adalah 10 acre plot treatment dan 10 acre plot tanpa treatment. hasilnya untuk uji jamur dalam plot terbesar dibuat untuk mendeteksi infeksi MPB pada area tanpa treatment pada uji pertama. Kira-kira dari 550 kaki dipisahkan 2 plot dalam uji kedua.
Hasil dan Pembahasan
Kedua uji tersebut ditempatkan pada thrips melon, thrips bunga barat dan thrips bunga florida, Frankliniella bispinosa (Morgan). Hasilnya ditunjukkan pada tabel 1-4. Pada uji pertama, dimana jumlah thrips menurun dan MPB banyak, kekuatan Beauveria bassiana melawan thrips tidak nyata (tabel 1). Thrips yang diinfeksi diketahui pada kedua plot baik yang diberi perlakuan dan yang tanpa perlakuan (tabel 2). Hasil yang signifikan telah diinfeksi MPB dengan Beauveria bassiana. Peningkatan infeksi seluruhnya tetap dari 4 sampel data, mencapai level kira-kira 20 %. Tingkat infeksi yang tinggi ini terjadi pada plot yang ditreatment maupun yang tidak, disarankan bahwa serangga yang terinfeksii dipindahkan pada pemeriksaan tanpa treatment, atau serangga yang terinfeksi secara alami terjadi pada pemeriksaan tanpa treatment. Observasi ini menjadikan plot terpisah dan sebagai ukuran uji kedua.
Pada uji kedua, jumlah thrips yang berjatuhan menarik perhatian dari aplikasi pertama Mycotrol WP9503 (tabel 3). Dalam sampel berikut, perbedaan antara plot yang ditreatment dan yang tanpa treatment tidak signifikan. Ketidaksesuaian antara jamur dan fungisida maneb yang digunakan petani bisa menerangkan kekurangan dari perbedaan itu. Maneb diketahui bisa melukai Beauveria bassiana. Jumlah thrips yang tinggi setelah diinfeksi dengan Beauveria bassiana, sama dalam sampel pretreatment tanggal 24 april 1996 (tabel 4). Indikasi ini jelas bahwa level infeksi alami thrips terjadi pada hasil lada di florida. Laju infeksi ditingkatkan pada kedua plot setelah aplikasi pertama. Dari data sampel berikutnya infeksi thrips hanya ditemukan pada area yang ditreatment.
Jumlah MPB pada uji kedua menjadi rendah. Peningkatan jumlah nyata terlihat pada area yang ditreatment dan perbedaan populasi antara yang ditreatment dan yang tanpa treatment mungkin tidak signifikan (tabel 3). Seperti dalam populasi thrips, infeksi MPB diketahui pada plot yang ditreatment maupun yang tidak ditreatment, indikasi alami terjadi patogen Beauveria bassiana.
Formulasi dari Beauveria basssiana pada uji juga telah berhasil melawan lalat putih, thrips, dan serangga lain pada beberapa tanaman. Uji ini menunjukkan bahwa Beauveria bassiana menekan populasi thrips, meskipun ketidaksesuaian fungisida dapat menurunkan efisasi (kemanjuran) secara keseluruhan. Ketidaksesuaiaan penggunaan fungisida biasanya merupakan faktor pembatas utama untuk diperluas menggunakan jamur ini untuk kontrol thrips atau serangga lainnya pada tanaman sayuran florida.Percobaan kami menunjukkan bahwa Beauveria bassiana umumnya menginfeksi thrips dan MPB. Infeksi ini terjadi pada lahan yang ditreatment dengan ketidaksesuaian fungisida, maneb. Penyaringan Strain dari jamur dikumpulkan dari lahan komersial yang ditreatment fungisida, bisa menghasilkan suatu produk komersial dengan kecocokan terbesar dengan pestisida yang lain.dari data yang ditunjukkan terakhir mengindikasikan bahwa tanah florida mengandung Beauveria bassiana, dan strain ini akan menginfeksii thrips dalam kondisi dibawah laboratorium. Penelitian kami menunjukkan bahwa infeksi dapat terjadi dibawah kondisi lahan yang tidak sehat. Beauveria bassiana hasil Penyaringan isolasi lahan yang dikumpulkan bisa menghasilkan produk komersial yang lebih aktif daripada menggunakan isolasi sekarang ini yang menggunakan Mycotrol
.
review
Saat ini, secara alamiah karena kumbang Orius insidious mengatakan (MPB) adalah agen pengontrol biologis utama untuk mengatur thrips pada lada (Capsicum annum L.). Alternatif lain terhadap agen pengontrol biologis dibutuhkan untuk mengatasi thrips Sebuah formulasi komersial jamur patogen serangga Beauveria bassiana (Balsamo) Bull telah dievaluasi untuk kontrol biologis thrips. Thrips yang terinfeksi ada pada plot yang menerima formulasi jamur secara komersial, juga terjadi secara alami pada daerah tanpa treatment. Sebelum awal abad ke-20 populasi thrips tidak terkontrol dan mengakibatkan hasil panen dan kualitas petani sayur florida menurun. Oleh karena itu, para peneliti melakukan pengujian pada ladang lada di Boyton Beach, FL dengan menggunakan jamur Beauveria bassiana sebagai pathogen serangga pengontrol thrips. Ladang tersebut dipilih karena disamping tempat tinggal populasi thrips, populasi MPB yang besar juga dideteksi disini.Pengujian dilakukan dua kali dengan prosedur yang ada dengan penambahan Silwet L77 pada aplikasi pertama dan Mycotech WP9503 pada aplikasi kedua. Plot yang dipakai adalah 10 acre plot treatment dan 10 acre plot tanpa treatment. Dari percobaan yang telah dilakukan tersebut dapat diketahui bahwa Beauveria bassiana terbukti dapat melawan lalat putih, thrips dan serangga lainnya pada beberapa tanaman serta melawan MPB. Beauveria bassiana menekan populasi thrips, meskipun ketidaksesuaian fungisida dapat menurunkan kemanjurannya secara keseluruhan. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai ini menjadi faktor pembatas utama untuk pengembangan jamur ini. Dengan kemajuan teknologi Jamur ini dapat diproduksi secara komersial dengan menggunakan teknik kultur cair.
Terjemahan:
Abstrak
Kontrol biologis terhadap hama sayuran merupakan tujuan penting bagi penanam dan praktisi IPM. Saat ini, secara alamiah karena kumbang Orius insidious mengatakan (MPB) adalah agen pengontrol biologis utama untuk mengatur thrips pada lada (Capsicum annum L.). Alternatif lain terhadap agen pengontrol biologis dibutuhkan untuk mengatasi thrips selama bulan-bulan penghujan saat MPB mulai diapause dan selama periode pemekaran jeruk saat penerbangan thrips besar-besaran bisa membanjiri kemampuan MPB menyediakan kontrol thrips satisfaktor. Sebuah formulasi komersial jamur patogen serangga Beauveria bassiana (Balsamo) Bull telah dievaluasi untuk kontrol biologis thrips. Thrips yang terinfeksi ada pada plot yang menerima formulasi jamur secara komersial, juga terjadi secara alami pada daerah tanpa treatment. MPB juga ditemukan. Kegunaan potensial jamur ini dibahas.
Pendahuluan
Thrips telah menyerang hasil panen dan kualitas bagi petani sayur florida sejak sebelum masuk abad- 20. Hama ini semakin sulit diatasi akhir-akhir ini. Kesulitan ini bertambah sehubungan dengan pengenalan spesies hama perusak secara ekonomis termasuk thrips bunga barat, Frankliniella occidentalis (Pergande) pada pertengahan 1980 dan thrips melon, Thrips palmy Karny tahun 1990. Spesies ini menyebabkan kerugian ekonomi besar akibat transmisi virus Tomato Spotted Wilt Virus dan dari makanan mereka dan luka tempat meletakkan telur serangga pada buah. Manajemen thrips idak mudah karena tingkat resistensi hama yang tinggi akibat pembukaan bertahun-tahun terhadap banyak bahan aktif yang berbeda. Maksud strategi manajemen meliputi kontrol biologi sebagai komponen utama. Pada banyak situasii hama, penyimpanan secara alami mengundang predator, seperti MPB, tindakan penindasan yang memadai atau kontrol populasi thrips. Meskipun periode perpindahan thrips yang tinggi ke tanaman, atau menekan populasi predator dari serangga yang diaplikasikan untuk pengontrol hama lain, seperti kontrol biologis yang tidak memadai. Dalam kasus ini, digunakan insektisida biorasional seperti patogen serangga yang bisa berguna. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi efisasi (kemanjuran) dari agen kontrol biologi, Beauveria bassiana untuk mengontrol thrips pada lada dan akibatnya terhadap MPB.
Bahan dan Metode
Dua uji telah dilakukan pada tahun 1996, menggunakan jamur patogen serangga, Beauveria bassiana (Mycotrol, Mycotech corporation, 630 Utah Avenue, Butte, MT) sebagai agen biologi melawan thrips. Tempat uji pertama telah dimulai diladang lada di Boyton Beach, FL. Ladang tersebut dipilih karena disamping tempat tinggal populasi thrips, populasi MPB yang besar juga terdapat di lahan ini, dan pengaruh Beauveria bassiana pada serangga dapat diketahui.
Jamur yang diberi Mycotech Corporation diformulasi sebagai pengontrol insekstisida biologis WP. Produk ini diaplikasikan pada 1 lb/acre dalam 50 galon semprot/acre dengan daya semprot petani komersial, ditandai dengan jatuhnya pipa-pipa yang disemprot langsung pada bagian samping dan puncak canopi tanaman. Silwet L77 agen inang silikon ditambahkan pada 0,04 % dari volume total yang disemprot pada aplikasi pertama dan agen inang kinetik menggantikan silwet L77 pada aplikasi terakhir. Aplikasi tiga mingguan dibuat dimulai 22 februari 1996 untuk 2 acre plot dengan 3 acre lada sebagai batasan sebagai kontrol tanpa treatment. Waktu percobaan dilahan kira-kira selama 17 minggu.
Akibat dari Mycotrol WP pada thrips dan MPB dievaluasi sebagai sampel dikumpulkan sebelum dan sesudah aplikasi dari pemekaran. Pada setiap 4 random dipilih bagian dengan treatment, diambil 50 pemekaran. Dari sini, 25 diletakkan pada kantong plastik untuk dievaluasi keefektifan thrips. Sebanyak 25 pemekaran kedua ditempatkan pada kantong plastik yang lain untuk determinasi spesies dan perhitungan populasi untuk evaluasi akibat dari jamur pada jumlah serangga. Sampel dikumpulkan segera sebelum tiap aplikasi dan 7 hari setelah aplikasi akhir. Sampel dari evaluasi kemanjuran direndam dengan isopropil alkohol 70 % segera setelah dikoleksi. Sampel dari evaluasi infektifitas ditempatkan pada pendingin dengan es buatan dan dibentuk sepanjang malam untuk laboratorium Mycotech di Butte, MT untuk kultur. Serangga pada evaluasi kemanjuran diidentifikasi dan dihitung menggunakan mikroskop dengan pembesaran 40 kali. Spesimen diseleksi bentuk untuk dikonfirmasi identifikasi dibawah mikroskop.Pengujian kedua telah dimulai selama 18 minggu di bell lada di Jupiter, FL tanggal 29 april 1996. aplikasi, pengumpulan sampel dan analisis pada pengujian kedua menggunakan prosedur yang sama dengan pengujian pertama. Formulasi jamur ditingkatkan, diganti Mycotrol WP9503 yang digunakan untuk penambahan hamburan jamur dalam tangki semprot. Silwet L77 ditambahkan pada 0,04 % untuk aplikasi. Plot yang dipakai adalah 10 acre plot treatment dan 10 acre plot tanpa treatment. hasilnya untuk uji jamur dalam plot terbesar dibuat untuk mendeteksi infeksi MPB pada area tanpa treatment pada uji pertama. Kira-kira dari 550 kaki dipisahkan 2 plot dalam uji kedua.
Hasil dan Pembahasan
Kedua uji tersebut ditempatkan pada thrips melon, thrips bunga barat dan thrips bunga florida, Frankliniella bispinosa (Morgan). Hasilnya ditunjukkan pada tabel 1-4. Pada uji pertama, dimana jumlah thrips menurun dan MPB banyak, kekuatan Beauveria bassiana melawan thrips tidak nyata (tabel 1). Thrips yang diinfeksi diketahui pada kedua plot baik yang diberi perlakuan dan yang tanpa perlakuan (tabel 2). Hasil yang signifikan telah diinfeksi MPB dengan Beauveria bassiana. Peningkatan infeksi seluruhnya tetap dari 4 sampel data, mencapai level kira-kira 20 %. Tingkat infeksi yang tinggi ini terjadi pada plot yang ditreatment maupun yang tidak, disarankan bahwa serangga yang terinfeksii dipindahkan pada pemeriksaan tanpa treatment, atau serangga yang terinfeksi secara alami terjadi pada pemeriksaan tanpa treatment. Observasi ini menjadikan plot terpisah dan sebagai ukuran uji kedua.
Pada uji kedua, jumlah thrips yang berjatuhan menarik perhatian dari aplikasi pertama Mycotrol WP9503 (tabel 3). Dalam sampel berikut, perbedaan antara plot yang ditreatment dan yang tanpa treatment tidak signifikan. Ketidaksesuaian antara jamur dan fungisida maneb yang digunakan petani bisa menerangkan kekurangan dari perbedaan itu. Maneb diketahui bisa melukai Beauveria bassiana. Jumlah thrips yang tinggi setelah diinfeksi dengan Beauveria bassiana, sama dalam sampel pretreatment tanggal 24 april 1996 (tabel 4). Indikasi ini jelas bahwa level infeksi alami thrips terjadi pada hasil lada di florida. Laju infeksi ditingkatkan pada kedua plot setelah aplikasi pertama. Dari data sampel berikutnya infeksi thrips hanya ditemukan pada area yang ditreatment.
Jumlah MPB pada uji kedua menjadi rendah. Peningkatan jumlah nyata terlihat pada area yang ditreatment dan perbedaan populasi antara yang ditreatment dan yang tanpa treatment mungkin tidak signifikan (tabel 3). Seperti dalam populasi thrips, infeksi MPB diketahui pada plot yang ditreatment maupun yang tidak ditreatment, indikasi alami terjadi patogen Beauveria bassiana.
Formulasi dari Beauveria basssiana pada uji juga telah berhasil melawan lalat putih, thrips, dan serangga lain pada beberapa tanaman. Uji ini menunjukkan bahwa Beauveria bassiana menekan populasi thrips, meskipun ketidaksesuaian fungisida dapat menurunkan efisasi (kemanjuran) secara keseluruhan. Ketidaksesuaiaan penggunaan fungisida biasanya merupakan faktor pembatas utama untuk diperluas menggunakan jamur ini untuk kontrol thrips atau serangga lainnya pada tanaman sayuran florida.Percobaan kami menunjukkan bahwa Beauveria bassiana umumnya menginfeksi thrips dan MPB. Infeksi ini terjadi pada lahan yang ditreatment dengan ketidaksesuaian fungisida, maneb. Penyaringan Strain dari jamur dikumpulkan dari lahan komersial yang ditreatment fungisida, bisa menghasilkan suatu produk komersial dengan kecocokan terbesar dengan pestisida yang lain.dari data yang ditunjukkan terakhir mengindikasikan bahwa tanah florida mengandung Beauveria bassiana, dan strain ini akan menginfeksii thrips dalam kondisi dibawah laboratorium. Penelitian kami menunjukkan bahwa infeksi dapat terjadi dibawah kondisi lahan yang tidak sehat. Beauveria bassiana hasil Penyaringan isolasi lahan yang dikumpulkan bisa menghasilkan produk komersial yang lebih aktif daripada menggunakan isolasi sekarang ini yang menggunakan Mycotrol
.
review
Saat ini, secara alamiah karena kumbang Orius insidious mengatakan (MPB) adalah agen pengontrol biologis utama untuk mengatur thrips pada lada (Capsicum annum L.). Alternatif lain terhadap agen pengontrol biologis dibutuhkan untuk mengatasi thrips Sebuah formulasi komersial jamur patogen serangga Beauveria bassiana (Balsamo) Bull telah dievaluasi untuk kontrol biologis thrips. Thrips yang terinfeksi ada pada plot yang menerima formulasi jamur secara komersial, juga terjadi secara alami pada daerah tanpa treatment. Sebelum awal abad ke-20 populasi thrips tidak terkontrol dan mengakibatkan hasil panen dan kualitas petani sayur florida menurun. Oleh karena itu, para peneliti melakukan pengujian pada ladang lada di Boyton Beach, FL dengan menggunakan jamur Beauveria bassiana sebagai pathogen serangga pengontrol thrips. Ladang tersebut dipilih karena disamping tempat tinggal populasi thrips, populasi MPB yang besar juga dideteksi disini.Pengujian dilakukan dua kali dengan prosedur yang ada dengan penambahan Silwet L77 pada aplikasi pertama dan Mycotech WP9503 pada aplikasi kedua. Plot yang dipakai adalah 10 acre plot treatment dan 10 acre plot tanpa treatment. Dari percobaan yang telah dilakukan tersebut dapat diketahui bahwa Beauveria bassiana terbukti dapat melawan lalat putih, thrips dan serangga lainnya pada beberapa tanaman serta melawan MPB. Beauveria bassiana menekan populasi thrips, meskipun ketidaksesuaian fungisida dapat menurunkan kemanjurannya secara keseluruhan. Penggunaan pestisida yang tidak sesuai ini menjadi faktor pembatas utama untuk pengembangan jamur ini. Dengan kemajuan teknologi Jamur ini dapat diproduksi secara komersial dengan menggunakan teknik kultur cair.

mas... aq minta izin ng0pi jurnal na.....
BalasHapusbwt tugas DPT juja c...
mkasih yaw........